Dalam hidup ini, aku sudah 2 kali menyerah.
Pertama, aku menyerah terhadap keluargaku. Ibu, ayah, dan kakakku .entah di usia berapa, mungkin sekitar SMP. Aku sudah tidak merasakan kecewa, sedih, atas semua perlakuan mereka. Apapun itu. Mau perlakuan tidak adik, mau perkataan kasar, perlakuan kasar, bohong, apapun itu.
Aku pernah berharap, mereka akan memperlakukanku dengan baik, menyayangiku, tidak berkata kasar lagi, dan memberikan fasilitas yg sama. Sesekali memenangkan aku, utk apa yg menjadi hakku. Tapi setelah semua perjuangan yg aku lakukan, sudah berapa kali aku tumbang, berkali kali aku jatuh sakit, meski aku menjadi anak yg pintar, anak yg berprestasi, aku bukan lah pilihan.
Pada saat masuk kuliah, aku sudah tidak memikirkan mereka lagi. Kenapa aku belajar begitu keras, agar d terima di Un Negeri. Karna aku yakin, kalau aku d Un swasta, mereka tidak akan membiayai. Aku hanya ingin bisa kuliah, agar bisa menjadi orang yg lebih baik.
Puji Tuhan aku d terima di UGM. Tapi apakah orang tuaku merayakan itu? Tentu tidak. Ayahku justru mencibir aku "kuliah d di komputer, apa kamu mau jadintukang servis komputer". Sepanjang aku berkuliah di UGM cibiran itu yg sering keluar. Aku tidak peduli, aku hanya terus tekun belajar. Tekun menambah skill ku. Aku tidak perlu lagi membuktikan kepada mereka agar mereka menerimaku, aku hanya ingin mereka Malu, atas perlakukannya kepadaku. Akhirnya benar, di semester 7 aku sudah mulai bekerja. Aku bekerja sambil kuliah. Aku kerja d 2 tempat. Dan di semester 9, karna proses kelulusan aku harus menambah 1 semester dari targetku, aku bisa membayar sendiri uang semesteranku.
Nana, kamu anak yang kuat, kamu adalah seorang petarung, begitu banyak luka d hatimu. Jika aku bisa menyembuhkanmu, aku akan segera berusaha menyembuhkanmu. Hiduplah bersama luka2 itu. Tak apa merasakan sakitnya sampai sekarang. Kamu boleh menangis, kamu boleh sakit, tapi kamu tidak boleh menyerah sekarang. Akan ada waktunya Tuhan memanggilmu. Dan kamu tidak perlu lagi merasakan sekua sakit itu.


0 komentar:
Posting Komentar