Jumat, 06 Maret 2026

Risan kecil #1

Belajar mengerti kepemilikan di usia yg sangat dini


Sore itu risan tersenyum lebar, bagaimana tidak, ayahnya datang menbawa mainan. Ya, sebuah box persegi panjang. Dia dan kakak nya langsung berlarian ke arah ayahnya. Dengan mata berbinar risan mengamati kakaknya membuka box itu. Dan taraaaa, isinya adalah sebuah robot, berwarna silver. Dan dia bisa berjalan sendiri kalau tombol on nya di nyalakan. Risan benar2 terkesan dengan robot tersebut. Senangnya dia bukan main. 


Dia lebih banyak mengamati kakak nya memainkan robot tersebut. Dia masi takut utk mencoba mainan tersebut. Dia benar2 takjub. Utk anak usia 3 tahunan, mainan tersebut sangat keren. 


Keesokan hari nya, di ingin memainkan robot tersebut. Dia meminta kepada kakak nya agar dia bisa bermain dengan robot tersebut. Tapi, kakaknya hanya memperbolehkan dia melihat. Dia tidak d perbolehkan utk mencoba memainkannya. Dan setelahnya kakaknya mengambil robot itu lalu menyimpannya entah dimana. Dan ketika dia memprotes ke ayah dan ibu, mereka hanya memintanya utk bermain dengan mainan yg lain. 



Disitu dia sadar, ayahnya membelikan mainan itu bukan utk dipakai mereka berdua, tapi utk kakak nya. Pun dengan mainan2 yg lain. Kakak nya mempunyai begitu banyak mainan. Tapi setiap risan mencoba bermain dengan mainan2 itu, kakak nya selalu memukulnya. Dan riaan tidak bisa membalas, karna tiap kali bertengkar, orang2 d rumah hanya memintanya utk tidak membalas, dan menyuruh risan utk tidak bermain atau mendekati kakak nya. 


Bagaimanapun dia masi anak2, terkadang dia hanya ingin memainkan sebentar saja. Karna dia tidak punya mainan. Mainan yg sering dia mainkan hanya potongan2 genting dan marmer, atau potongan kayu bekas membuat perlengkapan rumah. 


Entah d usia berapa dia sudah tidak pernah merengek lagi utk dibelikan mainan. Pernah suatu ketika dia menangis sangat histeris karna begitu ingin d belikan sepeda. Kakak nya punya sepeda kecil, lalu dia minta d belikan sepeda lagi yg model bmx. Dan di hari itu juga nenek membelikan sepeda utk kakak nya. Risan pikir karna kakak nya mempunyai sepeda baru, sepeda lamanya yg ukurnanya kecil akan diberikan kepada risan. Ternyata tidak, tiap kali risan mau memakai sepeda itu dia dipukul. 


Hari itu risan menangis sejadi jadinya, memohon agar ayah dan ibunya membelikan sepeda. Tapi, bahkan mereka berusaha menenangkan risan pun tidak. Akhirnya dia diam dengan sendirinya. Dalam diamnya, ada hal yg sangat menyayat hati, di usia sekecil itu, dia  mulai memahami, dia bukanlah anak yang di utamakan oleh orang tuanya. Dan, sejak itu dia mulai kehilangan harapan kepada orang tuanya. 

Jumat, 16 Januari 2026

Memoar Risan

  " ilalang"


Risan kecil lahir di keluarga yg sederhana. Dia lahir di sebuah pelosok desa, di kaki gunung lawu. Ibunya guru, ayahnya seolah aparat keamanan. 

Pada masa itu gaji PNS sangat minim. Tapi peninggalan buyutnya yg berupa kebun dan sawah, sangatlah membantu kehidupan keluarganya. Buah2 an yg sangat beragam, sawah yg panenanya melimpah ruah, adalah berkah tersendiri utk keluarga risan.

Meski keluarga risan tergolong cukup secara perekonomian, tapi... risan selalu hidup dalam keterbatasan. Ibu risan selalu bilang " besok hidupmu belum tentu enak " alih2 memberikan segala macam kebutuhan risan. Ya, kata2 itu adalah mantra setiap kali risan d minta utk mengerjakan pekerjaan2 rumah, dan juga selalu d selipkan dalam kemarahan ketika risan meminta sesuatu kepada ibunya.  

Dulu sewaktu kecil, mungkin sebelum SD, risan selalu mendapat cubitan, kadang di tangan, kadang di paha, setiap kali risan meminta sesuatu kepada ibu nya. Meski begitu, setiap kali dia melihat sesuatu yg lucu, dia akan tetap meminta kepada ibu nya. Meski sebagian bahkan hampir semua yg dia minta tidak pernah di turuti, dan bahkan cubitan kecil yg justru mendarat di badannya. 

Perlahan, risan menyadari, apa yg dia inginkan tidak akan pernah diberikan oleh orang tuanya, meskipun dia menangis sejadi jadinya. Justru akan semakin banyak omelan, makian dan cubitan yg akan dia terima. Menyadari hal ini, risan mylai berfikir, dia harus berusaha utk mendapatkan uang kalau mau membeli sesuatu yg dia inginkan. 

Dan benar saja, bibi risan, yg rumahnya bersebelahan dengan risan, mempunyai usaha jualan es kuncir. Awal mulanya risan ragu, tapi akhirnya risan berani, utk menerima pekerjaan menjadi tukang loper es. Tugasnya simple, dia hanya mengantarkan termos yg berisi es kuncir ke warung2 yg berlangganan es kuncir. Tapi karna risan masi kecil, dia hanya berani mengantarkan ke 2 warung yg lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah. Kira2 jarak warung itu sekitar 500 meter dan 800 meter. Sekali mengantarkan risan mendapat upah 100 rupiah. 

Risan sangat senang setiap kali mendapat upah. Sehari biasanay dia mengantarkan sekali ke 2 warung tersebut. Berarti dia mendapat 200 rupiah. Wajahnya sangat berseri setiap kali menerima 2 keping uang logam 100 an rupiah. Dalam benaknya dia selalu membayangkan akan dipakai utk membeli apa uang ini.. kadang dia belikan penghapus, kadang bolpoin, buku, penggaris, atau sekedar utk membeli nasi di sekolah. 

Badan risan sangat kecil, tapi semangatnya sangat besar. Karna dia sadar, utk mendapatkan apa yg dia inginkan ataupun dia butuhkan, dia harus mengupayakan sendiri. 


~ to be continue~

By Risan

Jumat, 24 Juni 2016

Pamitan sepatu

Tubuh saling bersandar
Ke arah mata angin berbeda
Pernah terbesit dalam benakku
Salah satu dari kita akan pergi
Tapi kuyakinkan itu bukan aku
Dan bukan kami

Sudah coba berbagai cara
Agar kita tetap bersama
Yang tersisa dari kisah ini
Hanya kau takut kuhilang
Tapi itu dulu..
Kini, kau tak lagi takut kehilanganku

Perdebatan apapun menuju kata pisah
Kini takkan lagi kupaksakan genggamanku
Berulangkali kau hempaskan tanganku

Dulu kita seperti sepasang sepatu
Yg meski tak bisa bersatu
Tapi selalu berjalan bersama
Kemanapun langkah kita

Tapi kini kau memilih jalanmu
Mencari kebahagiaan mu sendiri
Yang itu bukanlah aku
Ataupun kami

 
Copyright © just wanna be my self. All rights reserved.
Blogger template created by Templates Block | Start My Salary
Designed by Santhosh