Belajar mengerti kepemilikan di usia yg sangat dini
Sore itu risan tersenyum lebar, bagaimana tidak, ayahnya datang menbawa mainan. Ya, sebuah box persegi panjang. Dia dan kakak nya langsung berlarian ke arah ayahnya. Dengan mata berbinar risan mengamati kakaknya membuka box itu. Dan taraaaa, isinya adalah sebuah robot, berwarna silver. Dan dia bisa berjalan sendiri kalau tombol on nya di nyalakan. Risan benar2 terkesan dengan robot tersebut. Senangnya dia bukan main.
Dia lebih banyak mengamati kakak nya memainkan robot tersebut. Dia masi takut utk mencoba mainan tersebut. Dia benar2 takjub. Utk anak usia 3 tahunan, mainan tersebut sangat keren.
Keesokan hari nya, di ingin memainkan robot tersebut. Dia meminta kepada kakak nya agar dia bisa bermain dengan robot tersebut. Tapi, kakaknya hanya memperbolehkan dia melihat. Dia tidak d perbolehkan utk mencoba memainkannya. Dan setelahnya kakaknya mengambil robot itu lalu menyimpannya entah dimana. Dan ketika dia memprotes ke ayah dan ibu, mereka hanya memintanya utk bermain dengan mainan yg lain.
Disitu dia sadar, ayahnya membelikan mainan itu bukan utk dipakai mereka berdua, tapi utk kakak nya. Pun dengan mainan2 yg lain. Kakak nya mempunyai begitu banyak mainan. Tapi setiap risan mencoba bermain dengan mainan2 itu, kakak nya selalu memukulnya. Dan riaan tidak bisa membalas, karna tiap kali bertengkar, orang2 d rumah hanya memintanya utk tidak membalas, dan menyuruh risan utk tidak bermain atau mendekati kakak nya.
Bagaimanapun dia masi anak2, terkadang dia hanya ingin memainkan sebentar saja. Karna dia tidak punya mainan. Mainan yg sering dia mainkan hanya potongan2 genting dan marmer, atau potongan kayu bekas membuat perlengkapan rumah.
Entah d usia berapa dia sudah tidak pernah merengek lagi utk dibelikan mainan. Pernah suatu ketika dia menangis sangat histeris karna begitu ingin d belikan sepeda. Kakak nya punya sepeda kecil, lalu dia minta d belikan sepeda lagi yg model bmx. Dan di hari itu juga nenek membelikan sepeda utk kakak nya. Risan pikir karna kakak nya mempunyai sepeda baru, sepeda lamanya yg ukurnanya kecil akan diberikan kepada risan. Ternyata tidak, tiap kali risan mau memakai sepeda itu dia dipukul.
Hari itu risan menangis sejadi jadinya, memohon agar ayah dan ibunya membelikan sepeda. Tapi, bahkan mereka berusaha menenangkan risan pun tidak. Akhirnya dia diam dengan sendirinya. Dalam diamnya, ada hal yg sangat menyayat hati, di usia sekecil itu, dia mulai memahami, dia bukanlah anak yang di utamakan oleh orang tuanya. Dan, sejak itu dia mulai kehilangan harapan kepada orang tuanya.


0 komentar:
Posting Komentar